Hari
minggu yang cerah. Sesuai mottoku “Sunday is santai day” hari minggu ini juga
cukup aku pakai untuk bersantai bersama keluarga. Di pagi hari sempat terbersit
keinginan untuk jalan pagi, tapi keinginan itu kalah dengan pesona bantal dan
guling...

Tidak seperti biasa hari itu aku sempat berbincang-bincang dengan mamak, pengasuh si kecil. Mamak memberitahu tentang tetangga yang kebetulan menderita kanker. Menurut cerita mamak kondisinya sudah parah. Sebagai sesama penderita kanker aku tergerak untuk mencari tahu sejauh mana pengobatan yang sudah dijalaninya.
Ingatanku
kembali ke masa 2 bulan yang lalu. Subuh aku mendapat telpon yang mengabarkan
temanku, Aniroh Al Fauziyah (Allohummaghfirlaha) meninggal dunia. Bagaikan kilat
di siang bolong. Aku sempat meragukan kabar tersebut. Seperti biasa aku
berusaha klarifikasi berita tersebut ke teman-teman yang lain dengan harapan
berita itu hoax semata. Tapi keadaan berkata lain. Benar, temanku meninggal.
Disela-sela
kegiatan mengajar aku menyempatkan diri untuk ta’ziyah. Aku langsung menemui
kakak temanku dan menanyakan kejadian yang sebenarnya. Dan aku sangat terkejut
ketika mengetahui bahwa temanku sakit kanker payudara sejak 3 tahun terakhir. Sepanjang
perjalanan pulang air mataku tak berhenti keluar seiring penyesalanku yang
mendalam. Masih terbayang ‘kencan’ kami yang terakhir makan siang di Happy Land
3 bulan sebelum dia meninggal. Tak nampak tanda-tanda bahwa dia sedang sakit.
Aku
merasa sebagai teman yang tidak peka. Berulang kali dia bercerita tentang
temannya yang mempunyai benjolan di payudara. Aku hanya menyarankan untuk
segera operasi sehingga bisa diketahui dan diobati lebih awal. Tak berselang
lama dia memberitahu kalau ‘temannya’ belum berani operasi dan kemudian tanya
tentang kemoterapi. Itu terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Andai aku tahu bahwa
itu dia… Maafkan aku, sobat…
Alloohummaghfirlahaa
warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa