02 Januari 2012

Skizofrenia

Hari itu, Sabtu 17 Desember 2011 jam 8.00 aq berangkat ke RS Dr. Sardjito. Bukan untuk periksa atau kemoterapi tapi untuk nonton bareng film A Beautiful Mind bersama anggota KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia).

Memasuki IRNA IV bangsal teratai, ingatanku kembali ke bulan Agustus 2005. Di ruang pojok kanan dekat dengan ruang perawat, disitulah suamiku pernah dirawat selama 8 hari. Suamiku divonis menderita skizofrenia. Suatu pukulan terberat sepanjang hidupku....

Berdasarkan pengakuan suamiku, dia merasakan gejala skizo sejak lulus SMA. Ketika semester pertama dia kecewa dengan nilai-nilai yang diperolehnya sampai sempat berpikir untuk keluar dari universitas tempatnya kuliah. Tapi saat itu, dia belum mengalami halusinasi. Sampai akhirnya ketika dia mulai mengajar di sebuah SMA swasta di kota kami, halusinasi itu datang. Dia mendengar suara-suara yang selalu mencaci makinya, membuatnya tidak bisa tidur dan tidak doyan makan.

Masih teringat dengan jelas, malam-malam penuh kegelisahan karena suamiku tidak bisa tidur sampai berhari-hari. Tiap malam kerjanya hanya mondar mandir dan berbicara sendiri padahal pada saat itu aku tengah hamil anak kedua kami. Hal ini terjadi sampai bayiku berumur 5 bulan.

Bukannya kami tidak berusaha mencari kesembuhan. Suami sudah periksa ke dokter spesialis kejiwaan di kota kami. Tapi sayangnya, tanpa babibu, suamiku diberi obat tidur (alprazolam) dan dibilang kekurangan gizi. Olala....

Sampai akhirnya aku membawa suamiku periksa ke RS Dr. Sardjito. Disana suami diajak berbincang sampai akhirnya dokter bisa mendiagnosa sakit suamiku dan menyarankan untuk segera rawat inap.

Ketika film A Beautiful Mind memutar adegan John Nash menerima terapi kejut listrik, tak kuasa air mataku terjatuh. Teringat betapa penderitaan suamiku ketika melakukan terapi yang sama. Kedua tangan dan kakinya diikat dipinggir tempat tidur sebelum akhirnya 'disetrum'. Aku tidak tega melihat matanya melotot kesakitan dan badannya kejang-kejang. Sempat  aku menyesali keputusanku membawa suamiku ke tempat ini sampai akhirnya aku bisa melihat hasilnya yang baik terhadap skizofrenia.

Saat ini kondisi suamiku sudah sangat bagus, meskipun kadang halusinasi itu datang. Walaupun dia tidak bisa sembuh total yang terpenting sekarang sudah sembuh secara sosial dan tidak pernah relaps (kambuh). Mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa sudah pasti, tak lupa selalu kontrol dan minum obat secara teratur, aku yakin kesembuhan bukan suatu kemustahilan.....


Buat para caregiver... meskipun tidak mudah tetapi harus tetap semangat mendampingi ODS (Orang Dengan Skizofrenia). Tidak perlu malu dengan kondisi orang terkasih kita. Karena ini bukan penyakit kutukan Tuhan dan siapapun tidak pernah berharap menderita sakit ini.

Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin....




Kutuliskan cerita ini karena sayangku pada suamiku
Luv u always my hubby....



link terkait skizofrenia:
http://joys-inspiration.blogspot.com/2011/01/pengertian-skizofrenia-schizophrenia.html
http://meerbrille.wordpress.com/2010/11/21/skizofrenia/

9 komentar:

  1. Ya Alloh.....berikanlah kekuatan bagi wanita ini, berikanlah kemudahan baginya untuk kesusahan-kesusahan yang dia hadapi, berikanlah kelapangan hati kepada nya untuk selalu bersabar dan bertawakal kepadamu ya alloh, Semoga Zaza cepat sembuh amiiiin....

    BalasHapus
  2. sangat memberikan kekuatan utk yg mengalaminya maupun yg mndamping mrk sakit yg sama atau pnyakit lainnya.yg pasti apapun pnyakit itu, Allah yg tntukan dan berikan obatnya tinggal manusianya saja yg mau ikhtiar dan berdo'a kpd-Nya...
    Thank ya mba Zaza untuk mau berbagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2... beban akan terasa lebih ringan dengan berbagi cerita kepada orang lain... dan aq yakin dengan berbagi cerita pula maka akan semakin banyak orang yang memberikan doanya...

      Hapus
  3. Ruang Irna IV RSUP Sardjito...Mei 2005, sudah berapa tahun lalu, kami dibuat ternganga karena pintu rawat inap paling depan kanan jebol karena tenaga yang muncul sangat luar biasa. Ya, skizofrenia bukanlah pilihan dalam hidup. Namun, dengan skizofrenia keluarga kami menjadi lebih dapat memahami bahwa hidup memang penuh warna....
    keep spirit Bu Zaza. Let's enjoy living and manage sz till end.
    Salam sehat jiwa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas.... benar sekali. Justru dengan sz simpati dan empati terhadap orang lain bisa terbangunkan....

      Hapus
  4. Sabar ya bu...? Akan indah pada waktunya.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. heartful thanks mas Ato Aja....
      I believe the time will come... Surely.. oneday...

      Hapus
  5. Dear my dearest teacher, finally I got you in this social media, However I can feel the pain, my prayer goes to you...I'm so proud of you Ibu &Pak anhar, hope you still remember me... and 1 thing that you have to know " ALLAH SWT never fail to amaze us, Amin!

    BalasHapus