Hari itu, Sabtu 17 Desember 2011 jam 8.00 aq berangkat ke RS Dr. Sardjito. Bukan untuk periksa atau kemoterapi tapi untuk nonton bareng film A Beautiful Mind bersama anggota KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia).
Memasuki IRNA IV bangsal teratai, ingatanku kembali ke bulan Agustus 2005. Di ruang pojok kanan dekat dengan ruang perawat, disitulah suamiku pernah dirawat selama 8 hari. Suamiku divonis menderita skizofrenia. Suatu pukulan terberat sepanjang hidupku....
Berdasarkan pengakuan suamiku, dia merasakan gejala skizo sejak lulus SMA. Ketika semester pertama dia kecewa dengan nilai-nilai yang diperolehnya sampai sempat berpikir untuk keluar dari universitas tempatnya kuliah. Tapi saat itu, dia belum mengalami halusinasi. Sampai akhirnya ketika dia mulai mengajar di sebuah SMA swasta di kota kami, halusinasi itu datang. Dia mendengar suara-suara yang selalu mencaci makinya, membuatnya tidak bisa tidur dan tidak doyan makan.
Masih teringat dengan jelas, malam-malam penuh kegelisahan karena suamiku tidak bisa tidur sampai berhari-hari. Tiap malam kerjanya hanya mondar mandir dan berbicara sendiri padahal pada saat itu aku tengah hamil anak kedua kami. Hal ini terjadi sampai bayiku berumur 5 bulan.
Bukannya kami tidak berusaha mencari kesembuhan. Suami sudah periksa ke dokter spesialis kejiwaan di kota kami. Tapi sayangnya, tanpa babibu, suamiku diberi obat tidur (alprazolam) dan dibilang kekurangan gizi. Olala....
Sampai akhirnya aku membawa suamiku periksa ke RS Dr. Sardjito. Disana suami diajak berbincang sampai akhirnya dokter bisa mendiagnosa sakit suamiku dan menyarankan untuk segera rawat inap.
Ketika film A Beautiful Mind memutar adegan John Nash menerima terapi kejut listrik, tak kuasa air mataku terjatuh. Teringat betapa penderitaan suamiku ketika melakukan terapi yang sama. Kedua tangan dan kakinya diikat dipinggir tempat tidur sebelum akhirnya 'disetrum'. Aku tidak tega melihat matanya melotot kesakitan dan badannya kejang-kejang. Sempat aku menyesali keputusanku membawa suamiku ke tempat ini sampai akhirnya aku bisa melihat hasilnya yang baik terhadap skizofrenia.
Saat ini kondisi suamiku sudah sangat bagus, meskipun kadang halusinasi itu datang. Walaupun dia tidak bisa sembuh total yang terpenting sekarang sudah sembuh secara sosial dan tidak pernah relaps (kambuh). Mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa sudah pasti, tak lupa selalu kontrol dan minum obat secara teratur, aku yakin kesembuhan bukan suatu kemustahilan.....
Buat para caregiver... meskipun tidak mudah tetapi harus tetap semangat mendampingi ODS (Orang Dengan Skizofrenia). Tidak perlu malu dengan kondisi orang terkasih kita. Karena ini bukan penyakit kutukan Tuhan dan siapapun tidak pernah berharap menderita sakit ini.
Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin....
Kutuliskan cerita ini karena sayangku pada suamiku
Luv u always my hubby....
link terkait skizofrenia:
http://joys-inspiration.blogspot.com/2011/01/pengertian-skizofrenia-schizophrenia.html
http://meerbrille.wordpress.com/2010/11/21/skizofrenia/