29 Agustus 2012

Alhamdulillah 'Alaa Kulli Haal...

Menjelang hari raya Idul Fitri 1433, disaat orang-orang sibuk dengan persiapan menyambut lebaran, aq justru sibuk menyiapakan diri menghadapi 'perang'.  Setelah berkutat dengan thesis sejak awal 2012, dan harus jatuh bangun mengikuti perkuliahan karena kanker, akhirnya tiba juga saatnya sidang ujian thesis.

Dua hari menjelang ujian aq berangkat ke Solo. Beberapa hari terakhir tenaga dan pikiran terforsir dengan persiapan ujian sampai tidak doyan makan dan tidak nyenyak tidur (kayak orang lagi jatuh cinta ya...wkwkwk). Untungnya, sehari menjelang hari H, Mr. Appetite muncul lagi berkat sambel hehehe. Deeply thanks for my beloved friend Galuh for this...

Rabu, 15 Agustus 2012 , dengan semangat '45 aq berangkat ke kampus. Hari itu aq dapat giliran terakhir ujian, jadi cukup banyak waktu untuk mempersiapkan segala keperluan presentasi dll. Meski sempat mengalami kram karena tegang (satu gejala unik yang aq derita pasca kemo), akhirnya sampai juga giliranku tampil hehe.

Jam menunjukkan angka 11 waktu aq masuk ruangan ujian. Baru ada satu dosen penguji di ruangan itu. Dr. Ngadiso, M. Pd. Beliau dosen pembimbing thesisku yang luar biasa sabar dan teliti. Setelah ngobrol banyak hal tentang sakitku, dan tanpa menunggu dosen yang lain, Pak Ngadiso mulai mencecar dengan berbagai pertanyaan. Sempat mati gaya sih... tp Alhamdulillah, everything ran well.

Aq masih harus menghadapi 3 dosen yang lain. Dra. Dewi Rochsantiningsih, M. Ed., Ph. D, Drs. Martono, MA, dan Dr. Abdul Asib, M.Pd. sudah menunggu di ruangan berbeda. Hari itu memang aq dapat keistimewaan ujian privat karena kondisi tidak memungkinkan untuk mengumpulkan 4 dosen penguji dalam satu ruangan. Tapi justru aq merasa diuntungkan dengan situasi ini. Aq lebih rileks menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan meskipun jam 15:00 aq baru kelar. Empat jam yang melelahkan..!!!!

Meskipun masih ada sedikit revisi, tapi aq sangat bersyukur bahwa aq bisa menyelesaikan studi S2 dalam waktu 3 semester sesuai dengan targetku, dan mendapatkan nilai A untuk Thesis. Alhamdulillah...All praises and thanks are only for Allah in all circumstances....  



17 April 2012

Tak Habis Tuk Sabar

Legaaaa rasanya setelah menjalani 6 kali kemoterapi. Satu proses berat tlah terlewati. Meskipun begitu dokter masih mengharuskan aq untuk kontrol sampai lima tahun kedepan. Hayuuuh.... kalo cm kontrol sapa takuuuut... heheheh

Senen, 2 April 2012 aku ke RSUP Dr. Sardjito setelah 3 bulan sama sekali tidak pernah berurusan sama rumah sakit tsb. Hari itu aq dapat giliran no 6. Setelah diperiksa dokter, seperti biasa aq harus USG. Rencana scan hari ini ditunda sampai tahu hasil USG.

Hampir 3 jam aq nunggu giliran konsultasi kedua dengan dokter Kartika. Berdasarkan hasil USG, dokter menyatakan bahwa di rahimku tumbuh miom. Bisa jadi masih berhubungan dengan kanker yang aq derita. Satu kabar buruk lagi yang membuatku bener-bener shock. Terlebih saat itu aq ga ada yang menemani kontrol. Sepanjang perjalanan pulang aq hanya bisa menangis....


Butuh waktu seminggu lebih untuk memulihkan semangatku. Aq ga doyan makan sampai BB-ku yang sebelumnya sdh berangsur naik sempat menyentuh angka 40. Alhamdulillah, spirit itu tlah menyala lagi karena emang aq yakin saat ini masih harus lebih bersabar....

01 Februari 2012

Alahem....

Beberapa hari ini aku sibuk sekali seakan 24 jam waktu yang ku punya dalam sehari semalam tidak lagi mencukupi. Ada begitu banyak kewajiban yang harus aku selesaikan belum lagi mimpi yang ingin ku raih dalam sisa waktuku.
Meski semangatku cukup membara tapi sayangnya kondisi badanku tak sepenuhnya mendukung kobaran spiritku. Sebentar-sebentar tubuhku limbung. Tak berdaya....




Seperti saat ini... menyelesaikan tulisan ini saja ku tak mampu... Ngantuk bo....




02 Januari 2012

Skizofrenia

Hari itu, Sabtu 17 Desember 2011 jam 8.00 aq berangkat ke RS Dr. Sardjito. Bukan untuk periksa atau kemoterapi tapi untuk nonton bareng film A Beautiful Mind bersama anggota KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia).

Memasuki IRNA IV bangsal teratai, ingatanku kembali ke bulan Agustus 2005. Di ruang pojok kanan dekat dengan ruang perawat, disitulah suamiku pernah dirawat selama 8 hari. Suamiku divonis menderita skizofrenia. Suatu pukulan terberat sepanjang hidupku....

Berdasarkan pengakuan suamiku, dia merasakan gejala skizo sejak lulus SMA. Ketika semester pertama dia kecewa dengan nilai-nilai yang diperolehnya sampai sempat berpikir untuk keluar dari universitas tempatnya kuliah. Tapi saat itu, dia belum mengalami halusinasi. Sampai akhirnya ketika dia mulai mengajar di sebuah SMA swasta di kota kami, halusinasi itu datang. Dia mendengar suara-suara yang selalu mencaci makinya, membuatnya tidak bisa tidur dan tidak doyan makan.

Masih teringat dengan jelas, malam-malam penuh kegelisahan karena suamiku tidak bisa tidur sampai berhari-hari. Tiap malam kerjanya hanya mondar mandir dan berbicara sendiri padahal pada saat itu aku tengah hamil anak kedua kami. Hal ini terjadi sampai bayiku berumur 5 bulan.

Bukannya kami tidak berusaha mencari kesembuhan. Suami sudah periksa ke dokter spesialis kejiwaan di kota kami. Tapi sayangnya, tanpa babibu, suamiku diberi obat tidur (alprazolam) dan dibilang kekurangan gizi. Olala....

Sampai akhirnya aku membawa suamiku periksa ke RS Dr. Sardjito. Disana suami diajak berbincang sampai akhirnya dokter bisa mendiagnosa sakit suamiku dan menyarankan untuk segera rawat inap.

Ketika film A Beautiful Mind memutar adegan John Nash menerima terapi kejut listrik, tak kuasa air mataku terjatuh. Teringat betapa penderitaan suamiku ketika melakukan terapi yang sama. Kedua tangan dan kakinya diikat dipinggir tempat tidur sebelum akhirnya 'disetrum'. Aku tidak tega melihat matanya melotot kesakitan dan badannya kejang-kejang. Sempat  aku menyesali keputusanku membawa suamiku ke tempat ini sampai akhirnya aku bisa melihat hasilnya yang baik terhadap skizofrenia.

Saat ini kondisi suamiku sudah sangat bagus, meskipun kadang halusinasi itu datang. Walaupun dia tidak bisa sembuh total yang terpenting sekarang sudah sembuh secara sosial dan tidak pernah relaps (kambuh). Mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa sudah pasti, tak lupa selalu kontrol dan minum obat secara teratur, aku yakin kesembuhan bukan suatu kemustahilan.....


Buat para caregiver... meskipun tidak mudah tetapi harus tetap semangat mendampingi ODS (Orang Dengan Skizofrenia). Tidak perlu malu dengan kondisi orang terkasih kita. Karena ini bukan penyakit kutukan Tuhan dan siapapun tidak pernah berharap menderita sakit ini.

Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin....




Kutuliskan cerita ini karena sayangku pada suamiku
Luv u always my hubby....



link terkait skizofrenia:
http://joys-inspiration.blogspot.com/2011/01/pengertian-skizofrenia-schizophrenia.html
http://meerbrille.wordpress.com/2010/11/21/skizofrenia/